Hutan hujan tropis sering ditemukan pada daerah Amerika Tengah, Amerika Selatan, Afrika, Madagaskar, Australia bagian utara, Indonesia, maupun Malaysia. Pada wilayah tersebut terdapat beraneka jenis tumbuhan yang dapat hidup karena mendapatkan sinar matahari dan curah hujan yang cukup. Hutan hujan tropis berperan besar terhadap ekosistem alam dan juga berpengaruh pada produksi daur ulang karbondioksida yang diubah menjadi oksigen yang sangat diperlukan bagi seluruh makhluk hidup.

Hutan hujan tropis sangat berperan sebagai rumah bagi kehidupan flora dan fauna di seluruh dunia dalam ekosistem lingkungan serta berguna sebagai bahan baku untuk obat-obatan dalam dunia industri  farmasi, pariwisata, kerajinan, dan ilmu pengetahuan. Dengan luas hutan yang mencapai 109 juta hektar pada tahun 2003, menjadikan Indonesia sebagai negara ke-3 di dunia yang memiliki wilayah terluas hutan hujan tropis setelah brazil, dan kongo.

Penurunan luas wilayah hutan serta kerusakan hutan yang terjadi dengan waktu yang singkat dan mengalami penurunan ekosistem alam baik kualitas maupun kuantitas biasa disebut dengan Deforestasi. Deforestasi di Indonesia berlangsung sejak tahun 1970 hingga tahun 2000 laju kehilangan dan kerusakan hutan Indonesia mencapai 2,8 juta hektar/tahun. Diperkirakan sisa luas lahan hutan di Indonesia yang tersisa hanya 28%. Jika penebangan dan kerusakan hutan tidak dapat dihentikan maka luas wilayah hutan yang tersisa akan habis.

Kerusakan hutan di Indonesia terutama disebabkan oleh pembalakan liar (illegal logging), kebakaran hutan dan lahan, kegiatan penambangan, alih fungsi lahan hutan (konversi) menjadi perkebunan skala besar dan hutan tanaman industri, penebangan yang tidak lestar (unsustainable logging), dan pembangunan. Menurut data dari Departemen Kehutanan laju Deforestasi di Indonesia pada periode 2003-2006 mencapai 1,7 juta hektar/tahun. Saat ini Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerusakan hutan tercepat di dunia.

Dampak yang ditimbulkan dari kerusakan hutan (Deforestasi) yang dirasakan oleh manusia dan lingkungan alam dapat mengakibatkan bencana alam seperti banjir dan longsor. Penurunan jumlah kehidupan flora dan fauna di Indonesia menjadi ancaman yang serius bagi ekosistem hutan dan lingkungan. Kerusakan hutan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap siklus cuaca dan perubahan iklim yang ekstrem (pemanasan global), yang ditimbulkan dari dampak emisi gas rumah kaca yang dilepas langsung ke atmosfer tanpa adanya penyerapan gas buang terlebih dahulu.

Dengan luas hutan sebesar 109 juta hektar, hutan Indonesia sangat berpotensi sebagai penyerap emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia. Namun jika tidak dikelola dengan serius, maka hutan Indonesia juga akan mempercepat laju pemanasan global. Oleh karena itu manusia sebagai aktor utama dalam melestarikan alam dan ekosistem lingkungan terhadap kerusakan hutan yang terjadi.merupakan tanggung jawab dalam kegiatan sehari-hari. Dengan adanya tingkat kesadaran secara menyeluruh dalam menjaga dan melestarikan lingkungan dapat mencegah terjadinya bancana alam yang dihasilkan dari pemanasan global. Hutan Indonesia untuk masa depan generasi selanjutnya. Sayangi Bumi ini dengan tidak melakukan pembalakan liar…..